Search This Blog

Thursday, March 6, 2014

Ketika Hati Termaktub

Dear God….



 



Tuhan, untuk pertama yang aku ucapkan kepadaMu adalah terima kasih….



Tuhan, yang kedua adalah maaf…



Tuhan, aku ingin bercerita saat ini..

 



Tuhan, tangan kasihMu adalah sesuatu yang tak bisa kuusik tatkala Kau kehendakkan itu, suka duka sebuah kehidupan pasti terjadi. Salah satunya yang biasa makhlukMu bilang CINTA. CINTA…  dengan cinta semua bisa gila. Atau dengan cinta insanMu galau. Cinta, dengan ini yang nyata menjadi FANA’. Atau yang khayal menjadi indah nyata. Cinta itu buta tapi juga membutakan. Tak tahu siapa, kapan, dimana, dan mengapa, cinta akan hadir apabila kau ingin hadirkan. Seperti aku, aku siapa? Merasa gejolak yang indah luar biasa, namun untuk sesaat yang lama, itu menjadi sayatan yang pedih. Karena aku buta oleh cinta. Aku yang bodoh, menunggu hingga tak tahu kapan akan berakhir. Diam membisu dan membiarka separuh jiwa ini bersama sosok yang ia Tanami cinta. Dia tak tahu siapa aku, menyedihkan, tetapi, kebahagian dia itu lebih dari balasan cinta yang mungkin akan lebur. Cinta, karena arus asmara ini, seseorang bisa bodoh dan lupa diri atau bahkan GILA. Tuhan apakah salah jika hati ini terjatuh pada hati makhluk itu? Dengan cinta, aku tertawa ria bahak. Namun tak sebentar cinta buatku terisak pedih dalam arungan tangis lukisan pilu jiwa dan qolbu. Jalannya begitu licin, terjal, naik turun, dengan berbagai cobaan dan hadangan. Semua tak seberapa dengan MENUNGGU. Satu kata yang membuat lelah. Lelah jiwa, fisik, hati bahkan pikiran.



Menunggu tanpa kepastian, menunggu dengan pedih menatap dia disana merenda kasih yang lain. Menunggu tanpa harapan pasti. Menunggu dengan dia tak peka dengan batin yang pilu karena rindu tak bertuan ini. Tuhan, menunggu itu adalah hal yang berat yang mustahil ku jalani selamanya. Buka hatinya untukku Tuhan. Namun, melihat sorot mata indah itu, aku tak kuasa memisahkan hatinya dengan pilihannya. DIAM. Sampai kapan aku tak pernah mengerti menjadi patung padahal hatiku telah mulai merapuh, retak luluh lantak. Dia tak akan tahu sebelum aku ungkap isi benakku. Sekali lagi, mata indahnya buat aku merasa dosa untuk memutar hatinya memilihku. Hati ini tak bisa berbohong, namun tak kuasa berontak keadaan. Menangis adalah pelampiasan jiwaku. JAHAT. Aku atau dia yang JAHAT. Menyakiti hatiku sendiri tanpa tengokan mata hatinya. Apa kuasa tubuh mungilku ini tatkal dia lebih baik dan cita dengan wanita lain. Biarkan aku terpuruk disini, menahan rindu yang pilu. Menyimpan cinta yang beku. Bahkan kebekuan cinta itu akan rapuh apabila sentuhan lembut mendekat, bak lapisan beku tipis. Senyum pedih akan mengiringi kebahagiaan itu.Doaku untuknya juga akan tercurah segenap jiwa untuk langkah demi langkah meneruskan cerita hidupnya. Cinta ini luar biasa, menipu dengan sandiwara yang sakit. Menguatkan dengan jiwa yang lemah rapuh dan tinggal serpihan yang akan hilang terbawa oksigen kehidupan yang berarus. Meyakinkan dalam keraguan jiwa yang menyelimuti. Menegarkan dalam ketakutan yang menerpa. Tertawa dalam tangisan nestapa.



TUHAN… selagi dia belum halal untukku, belum melirikku, kutitipkan perlindungan untuknya kepadaMu dan bantuan para malaikatMu. Jangan biarkan makhluk dan alam ini menjahati hatinya meski dia melukis luka. Jangan pernah titikkan airmatanya untuk hal yang menyakiti hatinya. Singkirkan penghasut di sekelilingnya, jangan lukis sedih pada dirinya. Biarkan ia ceria dalam pilhannya meski bukan aku. Aku ikhlaskan semua. Jadikan dia imam bagi makmumnya, imam yang bijaksana, amanah, adil, tetap tenang tanpa ambangan bimbang hati dan keraguan. Ketauladanan dirinya, jadikan panutan manusia. Salahnya itu karena salahku yang tak bisa menegurnya, maka jangan hukumi dia, tegurlah dengan teguran kasihMu. Berikan mukjizatMu agar rasa ini memiliki jawaban meskipun itu kata tidak. Senyumnya adalah tenangku. Tawanya adalah bahagiaku. Amarahnya adalah salahku. Sedihnya itu lukaku.



TUHAN AKU SAYANG KAMU, SAMPAIKAN RINDUKU INI AGAR TAK TERUS MEMBEKU DAN AKAN MENYAYAT.